Mulai Tahun Lalu
Ide itu mucul begitu saja. Sebenarnya saya hanya ditugaskan untuk mengajar bahasa Inggris di SD HK Rajawali, sebagai bagian kontrak kerjasama antara tempat saya berkerja dengan SD ini. Posisi saya pun hanya sebagai pengganti dua guru yang sebelumnya mengajar, karena mereka berdua meminta izin untuk tidak mengajar lagi dengan alasan ingin lebih memiliki waktu bagi keluarga mereka di pagi hari. Saya beberapa kali melakukan observe cara mereka berdua mengajar sebelum benar-benar nanti dilepas untuk mengajar sendiri.
Peluang menjadi pelatih itu terbuka ketika suatu kali ada jadwal mengajar Sabtu pagi, saya sepertinya datang terlalu cepat. Murid-murid masih berolahraga. Daripada bengong di ruang guru, saya iseng ke lapangan basket yang terletak di depan sekolah. Kebetulan ada beberapa anak yang bermain basket. Namanya juga anak-anak dan belum tahu cara bermain basket, “kekacauan” terjadi di mana-mana.
Saya lalu coba nimbrung dengan mereka dengan menawarkan diri menjadi wasit dan sedikit-sedikit memperbaiki permainana mereka.
Setelah itu, sambil tetap mengajar, khusus hari Sabtu pagi saya sengaja datang lebih awal untuk menjadi wasit bagi mereka ketika bermain. Di beberapa pertemuan berikutnya ada seorang anak, William, yang bertanya apakah saya pelatih basket mereka. Saya bilang bukan. Setelah itu ada beberapa anak yang meminta saya untuk menjadi pelatih mereka. Saya bilang kalau memeang mereka mau bisa saya tanyakan ke Suster (yang menjadi kepala sekolah di SD ini adalah seorang Suster).
Besok paginya di sela-sela istirahat mengajar saya coba mengajukan gagasan anak-anak ini ke Suster. Beliau setuju-setuju saya asalkan tidak mengganggu waktu belajar mereka. Mendapat jalan terbuka saya mulai merancang program latihan dimulai dari hari rutin untuk berlatih. Terpilihlah hari Sabtu dan Minggu sore dengan pertimbangan saya tidak ada jadwal mengajar dan mereka tidak ada jadwal les.
Sejak bulan Juni 2007 saya mulai aktif melatih mereka. Jumlah peserta awal mencapai 40 murid. Semakin ke ke depan jumlahnya semakin berkurang. Dan saya rasa itu hal yang wajara. Itu artinya siapa yang benar-benar suka dengan olahraga ini semakin terlihat dan saya semakin bisa focus dalam memberikan porsi dan jenis latihan. Secara rata-rata jumlah yang hadir untuk cowok ada 15 murid dan cewek ada 10 murid.
Berbagai dasar-dasar basket saya ajarkan mulai dari dribble, passing, shooting, hingga defense dan transisi. Dan mereka, dengan kemampuan masing-masing, telah berusaha maksimal untuk menguasai semuanya
Jarangnya SD yang memiliki latihan basket membuat saya kesulitan mencari lawan untuk bereksebisi. Total saya hanya memberikan empat kali pertandingan persahabatan (baik cewek maupun cowok). Satu kali dengan anak2 SMP,tiga kali dengan SD. Untuk SD pun sebenanrnya hanya dengan satu SD yang punya dua cabang (SD Islam Athirah).
Serta sempat saya ikutkan dalam pertandingan eksebisi pada saat ada turnamen basket antar SMP, SMA, dan perguruan tinggi yang sedang berlangsung. Lawannya ? SD Athirah juga
Tapi di luar minimnya pertandingan persahabatan, paling tidak dengan mengikuti latihan basket mereka memperoleh pengalaman baru juga teman-teman baru. Yang lebih penting dari semuanya basket memberikan rasa percaya diri lebih bagi mereka. Alhamdulillah murid kelas 6 yang mengikuti basket lulus UAN semua
Ini beberapa aksi mereka di depan kamera pada saat mengikuti sebuah turnamen




